Langsung ke konten utama

Postingan

3: Apa yang Bertambah?

Postingan terbaru

Perkembangan Riset Menghafal untuk Dewasa

Bismillah.. Saya sedang menyelesaikan ini. Sebenarnya, ini project keluarga yang sudah berjalan. Tapi, ketika dituangkan menjadi karya, serasa menulis karya ilmiah lagi 😅 Biar formal gitu deh sekalian. Inti dari karya ini adalah rangkuman poin yang sudah kami jalankan: - Menghafal Al-Qur'an di tempat kami disesuaikan dengan kondisi psikologis penghafal. Target dibuat masing-masing dengan konsultasi kepada kami. Jadi, antara satu dan yang lain tidak sama. - Kami tidak menekankan kecepatan, tapi harapannya mutqin semua yang dihafal. Prakteknya, usai satu juz disetorkan, maka perlu tasmi', demikian seterusnya. Ini lebih efektif bagi penghafal dewasa yang disertai aktivitas kuliah/bekerja. - Kami juga mengkaji bagaimana hafalan bisa masuk ke memori long term individu. Repetisi yang diperlukan hingga seseorang dikatakan hafal juga menjadi kajian di tulisan ini. Selain berbasis teori kognisi psikologi, juga menuangkan pengalaman pribadi saya dan suami yang sudah melal...

Melakukan Riset dari Rumah

Bertepatan dengan kelas kepompong ini, saya sedang melakukan riset mengenai metode tahfidz bagi perempuan dewasa. Sebenarnya, ini sudah saya dan suami lakukan selama satu tahun belakangan. Kali ini, kami menuangkannya ke dalam sebuah karya ilmiah. Tujuan kami sebenarnya sederhana. Kami ingin, menghafal Al-Qur'an ini menjadi sebuah budaya dari rumah. Hal yang biasa dilakukan oleh keluarga-keluarga. Bukan perkara yang asing lagi. Ya, lumrah saja begitu..  Bagaimana caranya?  Memperbanyak keluarga yang memiliki mindset menghafal Al-Qur'an sebagai sebuah project keluarga. Kami memulainya dengan membangun Rumah Tahfidz-Parenting Nurul Qur'an di rumah kami. Ada beberapa santri putri yang tinggal dan belajar bersama kami. Mulai dari tahfidz, tema-tema pra nikah dan berbagai aktivitas lainnya.  Mengapa ini perlu?  Menghafal merupakan salah satu cara paling efektif melatih jiwa. Biasanya, emak-emak pasca menikah mengalami ketidakstabilan emosi yang berimbas k...

Menemukan Buddy dan Berkirim Bekal

Saya memutuskan untuk menghubungi duluan buddy. Namanya mbak Alvin Tio. Akrab disapa mbak Apin. Pertimbangannya apa? Hm, entahlah, terpikir tiba-tiba saja. Mungkin, karena mbak Apin sebelumnya menghubungi untuk meminjam novel, jadi masih terngiang. Alhasil, diterima..alhamdulillah. Mbak Apin masuk ke kelas Manajemen Emosi. Menurut ceritanya, kelas ini sangat besar dan dipisah lagi ke bagian yang lebih kecil. "Ada manajemen marah, manajemen konflik, self healing, selfcare, innerchild dan masih buanyak lainnya", jelas mbak Apin  Mengapa memilih masuk kelas manajemen emosi? Kalau alasan manajemen emosi, sy menyadari banyak rasanya yg sy ingin rubah dlm mendidik Husna nantinya. Sering tiba-tiba suka evaluasi diri pasca belajar parenting tema apa gitu ya. Lalu mendapati sewaktu sy kecil sy gak mendapatkan itu. Ini ada di bagian kelompok innerchild kalo dikelas menejemen emosi. Jadi semacam ingin memperbaiki kedepannya seluk beluk hal ihwal yg ada di manajemen emosi. ...

Oleh-oleh untuk Teman Belajar

Alhamdulillah, masuk ke fase ini. Kali ini tugasnya memberikan hadiah kepada teman kita. Hadiah ini berkaitan dengan tema yang sedang dipelajari oleh teman kita. Ada hal menarik yang ketika diskusi ditanyakan: "bagaimana kita bisa memberikan rekomendasi bacaan/sesuatu (hadiah) sedangkan tema tersebut bukan menjadi bagian belajar kita dan tidak sedang kita butuhkan untuk dipelajari?" Nah, iya juga ya.. Kalau saya memberikan beberapa hadiah sesuai dengan apa yang saya pelajari kepada kawan dengan tema belajar berbeda. Kebetulan, saya juga mempelajari tema lain, tapi tidak memilih memasuki kelasnya. Nah, apa saja yang saya bagikan? 1. Mbak Hanifah dari IIP Surabaya-Madura. Saya mengirimkan video family finansial planning dari channel youtube ZAP Finance. Channel ini salah satu yang saya pelajari dan terapkan mengenai pengelolaan keuangan keluarga. Saya banyak mendapatkan manfaat darinya. Mbak Hani menceritakan jika ia akan mengambil keluarga tambahan bidang keu...

Mencari Teman di Bunda Cekatan

Pengakuan Dosa: Saya tidak menyimak live nya. Ini mengerjakan langsung saja. Hahahah. Lucu rasanya. Kenapa saya begini? Sudah lelah-lelah ikut kelasnya tapi tidak dijalankan dengan baik. Ya, saya biasanya akan menonton dilain waktu ketika sudah lewat pun, wkwkwkwk Intinya, ini saya kerjakan berdasarkan melihat tugas kawan-kawan lainnya. Padahal, saya pun tak tahu sebenarnya apa pembahasannya. Hiks. Saya hanya membaca rangkuman dari mbak April yang dibagikan di grup.  Sebelum itu, ada teman-teman yang menjapri saya. Menanyakan kelas yang saya ikuti dan kenapa menyukai hal tersebut. Ya, saya menjawabnya. Ada tiga orang yang menghubungi dan dua lainnya berasal dari teman sekelas. Saya belum aktif mencari teman karena, saya masih merasa cukup dengan mentor belajar menggendong saya saat ini. Kebanyakan orang membuat saya kurang fokus. Saat ini, saya sedang mempraktikkan apa yang dipelajari dari pola yang Bu Septi lakukan di dunia nyata. Saya tidak ingin "membaguskan...

Unique Family: Tiga Biji 😂

Tinggal tiga orang di keluarga kami. Sisanya berkelana mencari makanan di keluarga lainnya. Hihihi. Lucu rasanya. Sempat ada perasaan mau bubar saja. Eh, tapi, buat apa juga. Grup ini kan untuk belajar, ya sudah dijalani saja. Go live apa yang ditonton? Sejujurnya, saya belum menonton satu pun. Kenapa? Karena belum ada tema yang sesuai dengan mind map saya. Kok gitu? Sejak awal, saya membuat peta sempit, agar tidak melebar. Hanya tentang babywearing yang akan saya pelajari. Jika diluar itu, belum dulu. Lalu, gimana? Ya, saya belajar diluar juga. Kedatangan wrap dari komunitas lainnya. Di grup belajar, ada mbak Nella dan Mbak Kena. Pekan ini, kami mendengar suara mbak Kena. Mbak Kena membahas mengenai persalinan yang nyaman dan menyenangkan. Ia juga berbagi kisah dan pengalaman keguguran dua kali yang pernah dialaminya. Mendengar kisahnya membuat saya merinding sendiri. Ya, penting sekali mempersiapkan diri sebagai calon istri/ibu. Saya pun membagikan apa-ap...