Langsung ke konten utama

Jurnal Mingguan 1: Menelisik Kembali Makna “Bisa yang Membahagiakan” bagi Individu


Tulisan ini diawali dengan pertanyaan yang saya lontarkan kepada diri sendiri:

“Bagaimana kita memahami bahwa diri kita menyukai suatu aktivitas? Terkadang, kita menyebut aktivitas ini suka, beberapa minggu-bulan-atau tahun berganti lagi kesukaannya.”

“Apa tolak ukur yang bisa kita gunakan untuk melegitimasi jika aktivitas tertentu layak kita sebut ‘bisa dilakukan’?”

“Adakah aktivitas yang tidak kita suka jika kita menumbuhkan ‘keikhlasan’ dalam hati?”

Pertanyaan diatas muncul tatkala saya mulai merenungkan kembali makna “suka-bisa-tidak suka-tidak bisa”. Saya kembali pada masa ketika pernah membuat list, mengisi kuadran, lalu membuat simpulan mengenai hal ini, beberapa tahun yang lalu. Entah apa yang saya isi waktu itu, yang jelas memikirnya saat ini membuat saya menyadari jika: yang saya sukai belum bisa bertahan lama untuk dikerjakan hingga saat ini. 


Apakah itu artinya apa yang saya tuliskan dahulu bukanlah suatu hal yang saya sukai? Saya perlu melakukan refleksi lebih dalam untuk menemukan jawaban atas hal ini.


Saya kemudian memilih untuk kembali berpikir, mengambil laptop, membuka google chrome, lalu mengetik sebuah nama: Martin Seligman. Tokoh psikologi positif yang ketika kuliah dulu saya idolakan pemikirannya. Saya ingin kembali bernostalgia mengenai konsep-konsep “suka yang membahagiakan” versi Seligman.


Saya menemukan video TED oleh Martin Seligman yang akhirnya saya tonton dua kali. Perlu waktu cukup lama bagi saya untuk mecerna apa yang ia sampaikan, walaupun saya "bahagia" kembali menyerap pemikirannya. Saya ingin memastikan kepada diri sendiri dulu jika memahami apa itu "bahagia".





Seligman menyebut jika ada 3 bentuk hidup bahagia.

Pertama, kehidupan yang menyenangkan, memiliki kesenangan sebanyak mungkin, emosi positif, mempelajari keterampilan, menikmati, menyadari dan menguatkan semua itu serta mempertahankannya selama dan sejauh mungkin.

Namun, kehidupan yang bahagia ini, menurut Seligman, akan luntur sekitar 50% seiring dengan perjalanan hidup. Persis, seperti apa yang saya alami beberapa tahun lalu ketika mendefinisikan suka-bisa dalam level kebahagiaan ini.

Kedua, hidup bahagia ketika kita menjalani aktivitas yang 'menyerap waktu sehingga tidak terasa'. Mike Csikszentmihalyi menyebut hal ini dengan istilah Flow. Pernahkah kita mengalami kondisi ketika mengerjakan aktivitas yang tidak terasa waktu berjalan cepat? Kondisi ketika kita benar-benar "sadar penuh, hadir utuh" menikmati setiap detik aktivitas kemudia tiba-tiba waktu tidak terasa berganti.

Sejujurnya, saya belum benar-benar merasakan hal ini 100%. Saya merasa bahagia ketika menulis/mengetik ini, tetapi juga tidak benar-benar terserap karena memikirkan hal-hal lainnya. Demikian pula aktivitas lainnya, hingga saat ini belum merasakan 'keterserapan' seutuhnya.

Ketiga, kehidupan yang bermakna. Kondisi ketika individu bersedia "melayani" diluar dirinya sendiri. Ia "mengabdikan" dirinya untuk kebaikan diluar dirinya (dan membuat dirinya pun bahagia penuh) menjalaninya.

Saya dan suami baru memulainya, terlepas bagaimana hasilnya nanti. Kami ingin mengabdikan hidup melalui pengembangan mahasiswa yang tinggal di rumah kami sambil menghafalkan al-Qur'an dan berproses mempersiapkan diri menuju peran-peran selanjutnya (istri dan ibu)


Ringkasannya, ketika ketiganya ada di dalam kehidupan individu, maka ketika itulah kepuasan hidup diperoleh secara seimbang.

Setelah membahas kebahagiaan dalam versi utuh, barulah saya merinci terkait aktivitas yang saya jalani saat ini. Saya membagi ke dalam tiga kelompok peran, yakni sebagai pribadi, istri dan ibu.



Lalu,guna memperjelas posisi cara pandang saya terhadap aktivitas keseharian, saya memasukkan daftar kegiatan tersebut kedalam kuadran-kuadran berikut. Ketika saya menyusun ini, saya memunculkan ulang emosi yang hadir ketika aktivitas tersebut saya lakukan (dengan sengaja) beberapa hari belakangan ini.



Jika melihat pola-pola dari kuadran yang saya lakukan, maka saya memiliki banyak kegiatan yang tidak menyenangkan, tetapi tetap saya lakukan. Aktivitas ini terdiri dari rutinitas rumah tangga seperti mencuci, menyapu, melipat baju, menyetrika. Hal lain yang ternyata saya renungkan tidak suka adalah menulis media promosi penjualan buku yang saya lakukan (semoga saya bisa mengubah cara ini segera!). Saya juga belum menikmati aktivitas mendampingi ananda bermain, menyiapkan MPASI, walaupun aktivitas tersebut tetap dijalankan.

Aktivitas melancarkan hafalan menjadi satu-satunya aktivitas yang masuk dalam ranah tidak bisa dan tidak suka. Saat ini, saya memasuki fase kebosanan yang sangat. Saya belum menemukan cara untuk mengembalikan kebahagiaan yang dulu (sempat) saya rasakan untuk hal ini.

Aktivitas yang saya sukai namun tidak bisa dilakukan berkaitan dengan membina reseller penjualan buku. Saya memasukkan pada kuadran ini karena merasa belum memiliki panduan yang kokoh untuk hal ini. Saya masih berada pada tahap trial and error. Hal ini membuat saya masih melakukan 'seadanya'. Saya masih bertekad untuk belajar lebih lagi agar berubah menjadi "bisa dan suka".

Aktivitas yang saya sukai merupakan hal-hal yang menimbulkan lebih banyak emosi positif dalam diri saya ketika melakukannya. Terlepas, bagaimana hasilnya, aktivitas ini membuat perasaan menjadi bahagia (belum seluruhnya). Saya memang belum merasakan flow, tapi setidaknya, aktivitas-aktivitas ini membuat saya merasa lebih baik.

Dari banyak hal yang "bisa bahagia" saya lakukan, ada lima hal yang berada pada posisi teratas. Saya memilih lima aktivitas ini karena yang saya alami, kehadiran emosi positif berulang ketika dilakukan. Aktivitas tersebut dirangkum dalam tabel berikut:



Jalan-jalan, bukan tentang lokasinya, namun aktivitasnya. Tidak harus ke suatu tempat yang jauh, namun yang penting "jalan-jalan"nya. Ya, benar-benar jalan. Seperti, ke area masjid al-Akbar, pusat perbelanjaan, taman bungkul, atau sekedar berputar kompleks rumah. Ya, ini menyenangkan bagi saya. Saya mencobanya kembali Minggu kemarin, dan ya! kebahagiaan itu hadir. Emosi positif lebih banyak muncul. Mungkin, karena saat ini aktivitas saya lebih banyak di rumah, sehingga keluar seperti ini membawa suasana baru yang membahagiakan bagi saya.

Membaca, aktivitas merupakan hal wajib bagi saya. Entah melalui media online atau buku (offline), saya menyukai membaca untuk menyegarkan pikiran. Bagi saya, membaca ini keharusan agar tidak reaktif terhadap hal-hal yang ada di sekitar. Dengan lebih banyak memahami dari bacaan, saya merasa lebih baik merespon keadaan (walaupun harus dengan diam). Tantangannya, saya suka membaca hanya apa yang saya suka, belum memiliki fokus khusus untuk didalami.

Menulis, ini aktivitas yang sebenarnya tidak setiap hari saya lakukan, namun membahagiakan ketika dilakukan secara bebas. Berbeda dengan menulis promosi iklan di akun media pribadi (saya memasukkannya ke kategori tidak suka tapi bisa), menulis dari hasil perenungan, kegelisahan, kejujuran, benar-benar penyalur emosi saya. Saya menikmati aktivias seperti ketika menulis tugas ini.

Berdiskusi, baik di langsung atau melalui media menjadi bahan refleksi pemikiran bagi saya. Mulai dari hal sekitar hingga yang lebih luas, berdiskusi membuat saya bisa lebih reflektif atas pikiran diri sendiri dan memahami bagaimana orang lain berpikir. Misalnya, ketika saya mendiskusikan suatu hal dengan suami saya. Ketika itu, banyak hal yang sebelumnya saya A menjadi B. Ternyata, apa yang saya bicarakan, terkadang membuat pikiran memikirkan ulang dan merefleksikan hal baru. Yah, kurang lebih demikian. Yang jelas, saya senang ketika ada teman berkunjung ke rumah saya dan mengajak berdiskusi.

Belajar! Yeaaay! Ini di posisi pertama. Kenapa? Karena saya sangat suka proses belajar mengenai tema yang saya suka. Tema ini saya tentukan berdasarkan kebutuhan pribadi saya. Menjelang memiliki anak, saya belajar lebih dalam seputar menyusui, MPASI, lalu gendongan, dari orang-orang yang memang menekuni bidang ini. Dalam belajar, terkadang saya tidak cukup hanya membaca buku/media/lainnya, namun perlu berguru langsung dari pemilik ilmu. Aktivitas ini selalu membuat saya berbinar, namun setelah selesai (memiliki ilmu tersebut), saya masih belum sempurna menghasilkan manfaat lainnya. Baru sebatas untuk diri saya sendiri.

Harapan ke depan, dari peta kuadran ini, apa yang sudah saya lakukan, bisa lebih matang untuk saya sajikan dalam karya. Saya pribadi memiliki tujuan ke arah sana, namun, belum juga dihasilkan. Apa yang saya tunggu? Terkadang, keraguan melanda: memang, sudah siap membagikan untuk orang lain? Padahal, membagikan sama dengan sudah melaksanakan (dengan sempurna?). Huh! Sepertinya, ada yang kurang tepat dengan cara saya berpikir. Ada yang ingin menjadi teman diskusi untuk hal ini? Bismillah. berproses semakin menebar kebaikan bagi diri sendiri, keluarga dan orang-orang sekitar.


#jurnalmingguanasri
#janganlupabahagia
#jurnalminggu1
#materi1
#kelastelur
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP

#institutibuprofesional


Komentar

  1. Waaa.. Makasih referensinya mba asri. Saya sempat memikirkan yg sama. Apakah jika masuk menjadi telur-telur artinya saya sanggup mempertahankan aktivitas itu sekuat tenaga? Karena itu kan suka dan bisa saya. Artinya ada kekuatan grit yg tertanam. Makanya kemarin ragam aktivitasnya harus dipraktekkan dulu, supaya benar-benar terasa.

    BalasHapus
  2. Selalu suka sama tukisan mba fasilkuh.😍

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peta Belajar Tema Babywearing 2020

Alhamdulillah, memasuki tahun 2020 bertepatan dengan kelas Bunda Cekatan Batch #1 membuat peta belajar. Sejujurnya, saya masih proses menyelesaikan video-video di grup, namun belum terkejar. Sembari saya pelajari kembali, saya selesaikan peta belajar yang menjadi tugas kali ini. Ceritanya, saya hanya menuliskan satu paket belajar saya tahun ini.  Mengapa? Agar ini bisa tercapai dengan sempurna. Mungkin, salam praktiknya akan ada banyak hal lain yang saya pelajari setahun ke depan, namun tema babywearing akan menempati salah satu posisi utama. Semoga bisa istiqomah hingga akhir tahun nanti. Bismillah.

Belajar Fokus dari Pemuda Ini: Menemukan Telur Keterampilan dan Konsistensi

Tidak membutuhkan waktu lama bagi saya untuk menyelesaikan buku ini. Saya banyak sekali belajar dari perjalanan Iman Usman belajar. Hal yang berhubungan dengan apa yang saya lakukan saat ini adalah: belajar bagaimana caranya belajar. Melaksanakan kebahagiaan dengan tanggung jawab, detail dan fokus.  Saya ceritakan satu penggalan kisah di buku ini ya.. Ketika usia 10 tahun, iman Usman menyukai Harry Potter. Saking 'tergila-gilanya' dengan novel fiksi ini, ia akhirnya belajar bahasa Inggris. Motivasinya, ingin membaca seri Harry Potter yang belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Ia pun bisa membacanya. Ia juga bersinisitif mendirikan toko online yang menjual perlengkapan Harry Potter di usianya yang sangat muda, mengadakan perjumpaan penggemar Harry Potter di daerahnya (yang ternyata diikuti banyak orang). Dari segala aktivtasnya yang dimulai dari hobi membahagiakan ini, anak kecil Iman bisa memperoleh uang yang ketika itu sekitar 2 jutaan.  Apa lagi efeknya?...

3: Apa yang Bertambah?

Hari ke-3. Hari ini bertepatan dengan hari Kamis, jadwal saya berpuasa sebenarnya. Pada masa begini, biasanya saya lelah, sulit melakukan apapun. Dan, hari ini sama. Saya tepar seharian. Perkembangan penulisan karya minim sekali. Tadi, saya menambahkan kalimat tanya di rumusan masalah, udah hanya itu. Rasanya, repot sekali mengerjakan di tengah menyusui dan puasa. Saya memberikan nilai need improvement untuk diri sendiri. Sebaiknya, besok saya membuat timeline dan aturan yang lebih jelas untuk diri sendiri.